Cerita Kuliah Kerja Lapangan Siti

Hollaaaaa kawan! Salam semangat dari Sitay si Pemeluk. Perkenalkan namaku Siti Munawaroh, biasa dipanggil Sit, Ti, Sitay, Sitong, dan beragam panggilan lainnya. Yang paling berkesan adalah Sabine memanggilku Sitay si Pemeluk. Katanya karena aku suka memeluk orang-orang hehe. Aku seorang mahasiswi Pendidikan Sosiologi UNY angkatan 2017 yang nglaju setiap berangkat ke kampus. Baik, itulah perkenalan singkatku. Kemudian, izinkan aku menceritakan pengalaman terhebat yang aku alami di awal tahun 2019 ini. Yaitu Kuliah Kerja Lapangan yang sangat asyik. Kuliah Kerja Lapangan atau disingkat dengan KKL tidak melulu membosankan. Hal ini terbukti dengan pengalaman KKL yang aku alami. Mulai dari persiapan KKL hingga terlaksana dan suksesnya KKL. Persiapan KKL yang penuh rintangan karena terbilang persiapan KKL ini sangat singkat, hanya satu bulan. Sedikit sharing saja, kebetulan aku menjadi panitia KKL yang bertugas mengkomunikasikan sesuatu kepada biro terpilih yang membersamai KKL kali ini. Apabila kawan semua akan mengadakan KKL atau semacamnya, pilihlah biro yang dapat kalian ajak kerja sama dengan kekeluargaan. Komunikasikan hal sekecil apapun agar semua dapat berjalan dengan lancar, tentunya dengan kesepakatan dan diskusi bersama seluruh peserta KKL. Tak lupa juga persetujuan dari dosen pembimbing KKL maupun dosen lainnya.
Lanjut ya kawan. Perjalanan KKL-ku bersama mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNY angkatan 2017 sebut saja kawan dilogi, Pak Grendi, Bu Endah, TL, dan kru bus. ini lah ceritaku.

Yogyakarta, 08 Januari 2019

Depan Gedung Rektorat UNY

Sesuai kesepakatan panitia bersama dosen dan biro, susunan acara dirubah menjadi maju 1 jam. Susunan acara awalnya kumpul di rektorat UNY pukul 07.00-08.00 berubah menjadi pukul 06.00-07.00 WIB. Selain itu, panitia juga memberitahukan ke kawan dilogi apabila ada yang telat disuruh menyusul naik grab wkwkwkw. Hal ini merupakan strategi agar kawan dilogi ontime dan keberangkatan tidak molor terlalu lama. Alhasil, kami berangkat pukul 08.30 WIB. Kami berangkat melewati jalur selatan. Aku naik bus 2 dimana isinya kawan dilogi kelas A yang didampingi oleh Pak Grendi dan Mas Lilik sebagai TL. Awal perjalanan di bus kami disuguhkan dengan menonton film yowesben dan dilanjut dengan karaoke bersama, lagu-lagu Sheila on 7 menjadi list lagu yang sering diputar. Aku duduk bersama Yustika yang suka lagu-lagu So7 dan band indie juga, jadi kami bernyanyi bersama dengan senang hehehehe. Kami bernyanyi bersama untuk menghindari mabuk perjalanan dan tidak terlalu merasakan mual karena merasa nyaman di bus. Ketika lelah, aku hanya berdiam diri kemudian berusaha tidur dengan posisi nyaman. Hal ini juga merupakan caraku untuk menghindari mabuk perjalanan. Kami duduk di kursi bagian depan karena kami ada di daftar mahasiswa mabukan, terutama Yustika hahahaha.
Kami berhenti di rumah makan Jatilawang kira-kira pukul 12.40 WIB. Di sini lah kami bertemu dengan rombongan bus satu yaitu kawan dilogi kelas B. Kami antri untuk makan siang. Setelah makn siang, kami sholat dzuhur sekaligus menjamak sholat asyar.
Setelah sholat, kami melanjutkan perjalanan dengan perut kenyang. Seperti biasa, kami bernyanyi bersama dibarengi dengan Intan dan Sabine bercerita mengenai pemandangan kanan kiri yang kami lewati. Setelah itu satu persatu mulai terlelap tidur. Pukul 20.00 WIB kurang lebih, kami sampai di Hotel Kembang, Bandung. Sebelum masuk hotel kami diberi informasi oleh Mas Lilik terkait pembagian kamar, makan malam dan freetime. Aku mendapatkan kamar nomor 0210 di lantai dua bersama Yustika, Nisak, dan Erika, sebut saja sobat gendat karena keetulan kami erisi semua kecuali Nisak wkwkwk. Setelah masuk kamar, kami langsung turun lagi ke lobby hotel untuk makan malam. Menu yang disajikan bervarian dan rasa makanannya enak. Namun sayang sekali aku tidak menikmatinya karena maaghku kambuh.
Selepas makan malam, aku kembali ke kamar bersama sobat gendat. Aku langsung tetiduran untuk meredakan rasa sakit maaghku. Erika mandi, Yustika membenahi kopernya, dan Nisak siap-siap pergi untuk bertemu dengan temannya yang tinggal di Bandung. Malam itu juga kami packing perlengkapan untuk tracking ke Suku Baduy. Semua perlengkapan yang akan dibawa tracking dimasukkan ke dalam tas ransel maupun tas tenteng. Aku dan Erika sudah memisahkan baju-baju bahkan kami berdua memisahkan baju ganti perharinya di plastic yang berbeda, jadi tinggal memasukkan ke daam tas ransel. Disitu lah kami mulai bercanda dan membully Yustika yang belum menyiapkan perlengkapan seperti kami berdua wkwkwk. Setelah packing, kami bertiga mulai diskusi untuk mencari tujuan dimana saja tempat-tempat yang cocok dikunjungi di kota Bandung. Namun sayangnya, karena aku sakit maagh dan kebetulan Erika juga sakit perut hari pertama menstruasi, dan dirasa tadi waktu di perjalanan menuju hotel sudah mengamati angunan-angunan di Kota Bandung, maka kami memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana dan menyiapkan fisik maupun mental untuk tracking ke Suku Baduy di hari berikutnya setelah kunjungan ke pemkot. Erika dan Yustika hanya membeli makanan khas Bandung via gojek yaitu seblak dan aku hanya membeli nasi ayam untuk meredakan sakit maaghku. Sebelum makanan dating, aku pergi ke kamar Yulia untuk meminta obat maagh. Seelum minum obat, aku sudah terlanjur minum susu atas saran Sabine karena ketika Saine sakit maagh, dia hanya minum susu kemudian beberapa jam kemudian sembuh. Ketika waktu menunjukan pukul 22.30 WIB, Nisak pulang dengan wajah gembira setelah bertemu dengan temannya. kami ercerita dan bercanda hingga kami berempat tidur pukul 23.40 WIB.

Bandung, 09 Januari 2019

Kantor Pemerintah Kota Bandung

Pukul 02.00 WIB aku terbangun kemudian mengeces HP dan tidur lagi tanpa selimut. Karena AC nyala, aku kedinginan dan terbangun lagi pukul 04.00 WIB karena telapak kaki kiriku keram. Aku mencoba untuk meluruskan kakiku dan menggerak-gerakkannya. Saat itu xErika juga sudah bangun tetapi tidur kembali. Begitu pula dengan aku, aku tidur lagi. Sampai jam HP menunjukkan pukul 05.30 WIB, kami bergegas bangun dan mandi. Pagi itu juga maaghku sudah sembuh dan aku kembali semangat untuk menjalani hidup wkwkwkw. Setelah semua selesai mandi, kami berempat turun membawa koper dan tas sekalian untuk dimasukkan ke dalam bus. Ternyata baru kami berempat yang membawa koper turun wkwkwkw. Setelah memasukkan koper ke dalam bus, kami bertiga makan pagi dengan menu yang sangat enak menurutku. Menunya pun komplit, bahkan ada bubur kacang hijau juga.
Agenda hari kedua KKL, mengunjungi Kantor Pemerintahan Kota Bandung dan dua objek wisata Bandung yaitu Farmhouse dan Floating Market. Rombongan check out hotel pukul 07.56 WIB dan berangkat ke Kantor Pemerintahan Kota Bandung. Tiba di pemkot Bandung, hal yang membuatku berkesan adalah pegawai kantor yang memakai pakaian adat Sunda. Kami serombongan berfoto di depan gedungnya. Setelah itu langsung masuk ke Auditorium Rosada untuk melakukan FGD (Focus Group Discussion). Ketika masuk ruangan, lagi-lagi aku dibuat kagum dengan arsitek bangunan Auditorium Rosada. Warna kursi yang bervariasi menambah kesan tersendiri untuk ruangan ini. Kami menunggu narasumber FGD lumayan lama karena kebetulan sedang ada briefing setelah apel pagi. Alhasil, Mas Fajar selaku TL dari biro melakukan aksi sulap wkwkwkwkw. Yaaa lumayan menghibur dan bisa memecahkan kegabutan di pagi hari. Tidak lama kemudian, pegawai kantor Pemkot Bandung datang. Pembicara FGD bernama Pak Andry Heru Santoso selaku Kasubbid 1 PIPW Bapplitbang Kota Bandung. Pak Andry menjelaskan banyak sekali terkait kebijakan penataan ruang Kota Bandung. Beliau juga menjelaskan latar belakang warna kursi yang bervariasi karena hal tersebut merupakan desain dari Pak Ridwan Kamil selaku Wali Kota Bandung periode 2013-2018. Setelah Pak Andry menjelaskan, dibukalah tanya jawab kemudian beberapa kawan dilogi ada yang bertanya.
Setelah selesai melakukan FGD, kami jalan-jalan mengelilingi kantor Pemkot Bandung terutama berkunjung di Bandung Planning Gallery. Di tempat ini kami disuguhkan gambaran kota Bandung dalam tiga tahap yaitu Bandung masa lalu, Bandung masa kini, dan Bandung masa yang akan datang. Banyak hal yang dapat dipelajari dari setiap sudut bangunan ini. Setiap gambaran pasti disertai dengan penjelasannya. Bahkan ada layer sentuh seperti computer yang dapat digunakan oleh pengunjung untuk mencari berbagai informasi tentang Kota Bandung.
Perjalanan KKL berlanjut ke tempat wisata ke Farmhouse dan Floating Market. Aku sangat menikmati wisata ini. Berbagai kejadian di tempat ini tidak akan bisa terlupakan, contohnya kejadian Yustika dan Intan ketumpahan minuman milo di Floating Market hahahaha.
Kami berkunjung ke tempat wisata kira-kira sampai pukul 17.00 WIB kemudian melanjutkan perjalanan menuju Terminal Ciboleger namun sebelum itu mampir makan malam di rumah makan (lupa namanya hehehehehehe).

Banten, 10 Januari 2019

Terminal Ciboleger

Tibalah kami di Terminal Ciboleger kira-kira pukul 04.40 WIB kemudian semua kawan dilogi mandi, aku mendapatkan antri lumayan belakang karena masih kedinginan dan mulai antrinya juga terlambat yaitu kira-kira pukul 06.00 WIB wkwkwkw. Kami mandi di rumah-rumah warga Ciboleger. Harga sekali mandi lima ribu rupiah. Semua orang sibuk dengan aktivitasnya, ada yang ngobrol di bis, ada yang ngobrol dengan warga Ciboleger, ada yang membeli durian karena kebetulan di sana baru musim panen durian. Hal yang aku amati adalah, di sana anak-anak kecil sudah ada yang sekolah tetapi ada anak kecil bernama April yang rela tidak berangkat Sekolah karena berjualan kayu untuk mendaki. Aku sempat ngobrol lama bersama April dan kawan-kawannya. Tentang sejak kapan mereka tinggal di Ciboleger dan ternyata Nenek Buyutnya April dulunya merupakan warga Baduy Luar. Sekarang sudah pindah menjadi warga Ciboleger.
Pukul 08.30 WIB kawan Dilogi sudah siap untuk tracking. Sebelum berangkat kami ada briefing yang dipimpinoleh Tour Guide dari Banten. Kesepakatan diawal, panitia meminta biro menyiapkan TG lebih dari dua orang, alhasil jumlah TG ternyata malah ada lima orang. Keberadaan TG sangat membantu perjalanan kami, selain itu juga ada TL dari biro berjumlah lima orang, mereka pun sangat membantu. Aku dan kawan dilogi pesan porter untuk membawakan tas-tas kami.
Perjalanan menuju Baduy Luar kira-kira 1,5 jam sehingga kami tiba di Baduy Luar kurang ebih pukul 10.00 WIB. Pada perjalanan ini, aku berada di rombongan paling depan karena aku berpikir ketika berada di depan nanti bisa istirahat lebih lama sambil menunggu kawan-kawan yang berada di belakang wkwkwkwkwk. Setiba di Baduy Luar tepatnya Kampung Gajebo, kami menyeberangi jembatan dan kemudian istirahat untuk makan siang. Sambi menunggu makan siang datang, kami ngobrol santai bersama beberapa orang (tidak tahu asli mana wkwkwkw) yang berjualan pernak Pernik gantungan kunci maupun gelang tangan. Aku teringat saudara dan teman-teman lamaku, yaaa lalu aku beli pernak-pernik itu untuk mereka. Di sana juga ada warga Baduy Dalam yang menjemput dan siap menjadi petunjuk arah menuju Kampung Cibeo Baduy Dalam. Di tempat ini kami berpisah dengan sebagian kawan dilogi yang memutuskan bersinggah di Kampung Gajebo, Baduy Luar. Rombongan Baduy Luar, dan rombongan Baduy Dalam, begenilah singkatnya.
Begini sedikit gambaran warga Kampung Gajebo, Baduy Luar. Mereka sudah memiliki HP bahkan HP yang canggih yaitu layar sentuh. Bahkan ketika aku tiba pertama kali di sana, warga sana yang mengajak foto duluan. Awalnya aku bingung dan ragu, ini beneran warga Baduy Luar atau hanya pendatang dari kota. Tetapi ternyata memang mereka asli warga Baduy Luar, aku dikasih tau Mas Derry, salah satu Tour Guide. Kemudian kami berinteraksi dengan mereka. Aku mengamati rumah-rumah warga yang terbuat dari kayu. Benar-benar 100% dari kayu. Tembok berasal dari anyaman bambu, lantai panggung juga berasal dari bambu, dan atapnya berasal dari ijuk yang terbuat dari daun kelapa yang telah dikeringkan. Rumah ini dapat disebut dengan rumah adat Sulah Nyanda.
Melanjutkan perjalanan ke Kampung Cibeo, Baduy dalam pukul 11.30 WIB. Perjalanan kira-kira sekitar 4 jam ebih 15 menit dari Kampung Gajebo, Baduy Luar karena diperjalanan ini aku berada di rombongan paling belakang. Dengan semangat dan jiwa korsa (ihiy wkwkwkw) aku membersamai Yustika yang sangat amat lambat berjalan karena suatu hal (gendut hahahaha). Berkat ini aku bisa lebih menikmati pemandangan-pemandangan yang menyegarkan mata wkwkwkw. Selama perjalanan kami sering berhenti karena lelah. Perjalanan ke aduy Dalam benar-benar tidak akan pernah terlupakan, bagaimana perjuangan kami mendaki tanjakan cinta. Sekitar pukul 13.11 WIB kami rombongan belakang berhenti istirahat di Kampung Cibungur, Baduy Luar. Rombongan belakang dibersamai oleh Mas Fajri si tukang ohong, yang selalu bilang “deket lagi kok” wkwkwkw. Di sini ada teteh-teteh yang sedang menenun. Aku mencoba mengajak dia komunikasi menggunakan bahasa Indonesia (karena akum ah gaisa bahasa sunda, cuman sok-sokan aja wkwkwkw) tapi sayangnya sangat susah mengajak mereka berinteraksi, jawaban mereka hanya “iya dan tidak” saja. Aku sempat meminta untuk berfoto dengan salah satu teteh, namun sayangnya ditolak wkwkw. Yaudah. Aku hanya mengamati kegiatannya (menenun). Ketika Pak Grendi dan Bu Endah datang, kami melanjutkan perjalanan lagi. Oh iya, Pak Grendi dan Bu Endah ikut romongan Baduy Dalam loh wkwkwk bersama tiga Tour Guide (Mas Derry, Mas Gulam dan yang paling menyebalkan Mas Fajri wkwkwk) dan tiga Tour Leader (Mas Duan sang pemimpin, Mas Lilik sang pelawak galucu di bus dan Mas Fajar si fotografer handal wkwkwkw). Pada perjalanan ini kami menemui jembatan perbatasan antara Suku Baduy Luar dan Suku Baduy Dalam. Mulai jembatan ini kami benar-benar tidak memotret pemandangan maupun mainan HP. Hal ini untuk menghargai peraturan dan adat yang diberlakukan oleh Suku Baduy Dalam. Pada perjalanan ini masih ada tanjakan cinta yang sama sekali tidak ada batu yang menahan injakan kaki. Benar-benar waw. Selepas di tanjakan cinta ini, kami berhenti di dekat saung. Saung adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat beristirahat dan berguna untuk pergi bulan madu bagi warga Baduy Dalam. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan harapan segera sampai tujuan. Dan lagi-lagi Mas Fajri bilang “tinggal setengah jam lagi kok”. Aku jalan bersama Yustika dan Hadi. Waktu itu kami percaya-percaya saja, tapi setelah berjalan lagi, satu jam belum sampai juga hoi. Kami bertiga hanya bisa tersenyum sabar. Jalan lagi, jalan terus, jalan dan jalan. Tiba-tiba aku jatuh terpeleset karena melihat hewan seperti ulat bulu tapi juga mirip kaki seribu yang panjang dan besar. Dari kecil aku sangat takut sama hewan seperti ini, apalagi ini ukurannya lebih besar daripada ulat bulu biaasanya. Kata teman yang lain sih ini bukan ulat bulu, melainkan hewan kaki seriu. Aku tidak yakin akan hal itu, karena aku hanya melihat sekilas dan ketakutan, alhasil aku jatuh terpeleset.
Sampailah tujuan utamaku yaitu Suku Baduy Dalam tepatnya di Kampung Cibeo. Aku langsung istirahat sejenak kemudian mencari tas dan rumah yang akan aku tinggali satu malam itu. Ternyata satu rumah itu campur dengan kawan dilogi kelas B juga. Aku satu rumah dengan Yustika, Herni, Dency, Mala, Nurul, Zulianes, Rama, Farid, Dedy, Ahmad, Yonan, dan ada TL maupun TG juga. Pemilik rumah yang kami tinggali bernama Naldi, Ayah Naldi panggilannya. Ternyata Ayah Naldi ini adalah warga Baduy Dalam yang menjemput kami waktu berhenti di Kampung Gajebo, Suku Baduy Luar. Ayah Naldi tinggal bersama istri, anak angkat bernama Ardiman, Nini dan Aki (ayah ibu mertua). Sore itu juga kami mulai semakin dekat dan berinteraksi lebih intens, Ayah Naldi mengawali masak bareng dengan memotong sayuran. Kami masak sayur asem, tempe goreng, dan ikan asin (katanya sih ikan mujaer). Saat Ayah Naldi hendak mencuci sayuran, aku memutuskan untuk ikut beliau. Namun karena jalan beliau sangat cepat, aku tertinggal di jembatan sungai yang digunakan untuk mandi (tempat pencucian sayur lebih berada di sseerang jembatan). Saat itu aku melihat Sabine, Vickita, Novi, Annisa dan Eka sedang mandi. Aku menghampiri mereka dan ikut turun ke sungai. Air sungai sangat segar dan raanya sangat beda dengan air sumur di rumahku wkwkwkw. Air sungai di Suku Baduy Dalam masih jernih dan asli tanpa tercemar bahan kimia natau apapun itu. Kecuali sesuatu yang mengamang hahahaha, karena sungai di sana merupalkan sumber aktivitas warga. Buat mandi, cuci gelas yang terbuat dari bambu, mangkok keramik, buat BAB juga bahkan wkwkwkw. Aku tidak mandi di sana, hanya cuci tangan dan kaki menggunakan batang dan daun (daun sebagai sabun). Nama daun itu adalah honje (sumber dari internet, lupa namanya wkwkwk udah dikasih tau sama Mas Derry. Semoga ini benar).
Selesai berendam di sungai (kaki dan tangan doang wkwkwk), aku pulang ke rumah ayah untuk melanjutkan masak bareng kawan-kawan yang lain. Tak lupa juga, aku menggunakan conterpain untuk mengurangi rasa pegal-pegal di tangan maupun kaki. Kami berbincang Panjang lebar dengan ayah dan keluarganya. Kebetulan saat aku kembali ke rumah dari sungai, ambu, Ardiman serta nini sudah kembali ke rumah dari berladang juga. Obrolan dan candaan menyelimuti sore menjelang malam waktu itu. Akhirnya makanan sudah matang, tetapi tak kunjnung dimakan karena menunggu ayah. Ayah pergi ke rumah anaknya yang kebetulan rumah itu disinggahi oleh Vickita, Sabine dan kawan-kawan. Karena aku takut maaghku kambuh lagi, maka aku memutuskan beli pop mie dan cemilan di sana. Jadi ternyata, tetangga ayah ada yang jualan gitu, seperti cemilan ciki, popmie, kopi, tegh, dan lain-lain (tapi tidak komplit). Tidak lama kemudian ayah kembali, dan kami makan bersama (yay). Pelajaran yang aku tangkap di sini adalah. Tuan rumah tidak mendahului ambil makanan, sebelum semua tamu sudah mengambil. Jadi mereka menunggu kami untuk makan terlebihg dahulu lalu mereka menyusul makan. Hal yang membuat bingung adalah, kami makan menggunakan mangkuk dan sendok, sedangkan mereka menggunakan daun pisang. Setelah makan malam, aku berkunjung ke rumah yang dsinggahi Sabine dan Vickita. Kami bercerita bercanda di sana. Kemudian agenda selanjutnya adalah FGD bersama Jaro’ (kepala desa).
Beginilah gambaran secara singkat kondisi Kampung Cibeo, Baduy Luar menurut pengamatan dan hasil FGD bersama Jaro’ Sami malam itu. Rumah di Baduy dalam sama seperti rumah di Baduy Luar. 100% terbuat dari kayu. Terdapat tiga bagian di rumah ini, yaitu:
a. Bagian sororo, depan. Sering kita sebut teras rumah.
b. Bagian tepas, tengah. Ini ruangan paling luas. Di sini juga ada luweng yang digunakan untuk memasak. Alasan kenapa bisa tidak terbakar walaupun ada luweng di dalam rumah yang berlantai kayu adalah bagian bawah luweng dilapisi tanah/ pasir terlebih dahulu.
c. Bagian ipah. Belakang. Di sini juga kami pakai untuk memasak waktu itu, tetapi ini juga temat tidur untuk keluarga ayah.
Kehidupan warga Baduy Dalam adalah berladang. Dari pagi sampai sore mereka menghabiskan waktu untuk berladang. Bahkan waktu kami tiba sekitar pukul 15.45 itu, kampung Cibeo sangat sepi karena warganya masih berladang. Interaksi antar warga termasuk sedikit waktu itu. Tidak ada warga yang mengumnpul di suatu tempat. Mereka seperti menjalani kehidupan sendiri-sendiri. Menurutku, inilah factor yang membuat mereka tidak pernah ada konflik. Ketika FGD sempat dibahas bahwa di kampung Cibeo tidak pernah terjadi konflik. Hal menarik lainnya adalah, mereka tidak ada yang obesitas. Menurutku ini juga karena pola hidup yang teratur dan makan sesuai porsinya. Mereka jalan kaki juga membuat kesehatan bagus, kondisi tubuh yang kuat. Kehidupan mereka sangat sederhana. Terkait dengan penggunaan mangkok memang diperbolehkan di sana. Namun dilarang menggunakan gelas kaca maupun gelas plastik. Aku sempat bertanya kepada Jaro Sami terkait proses penentuan kepala desa(jaro) dan ketua adat (“puun” yang saat itu tidak bisa ditemui). Kata Jaro Sami, penentuan ketua adat yaitu dengan pemberian amanah melalui mimpi. Iasanya itu turun temurun satu keturunan. Kemudian untuk pemilihan kepala desa melalui musyawarah mufakat. Di Suku Baduy Dalam tidak ada sama sekali listrik, penerangan menggunakan “gelek”. Tetapi kami diperbolehkan menggunakan senter saat jalan ke rumah Jaro Sami.
Selepas melaksanakan FGD, kami langsung pulang ke rumah ayah dan tidur. Tapi sebelum tidur, tiba-tiba ayah membawa beberapa buah durian. Langsunglah kami serbu wkwkwkw tapi aku diambilin Mala karena tidak kuat berjalan wkwkwk. Saat itu aku tidak tahu pukul berapa karena tidak ada jam. Tidak lupa untuk menggunakan conterpain karena saat itu kaki dan tangan masih pegal-pegal.

Banten, 11 Januari 2019


Bangun pagi, teman-teman ada yang membantu ambu dan ayah memasak untuk sarapan pagi. Aku jalan-jalan ke rumah tetangga wkwkwk. Selepas itu aku kembali ke rumah untuk makan bersama. Menu makan pagi itu adalah nasi goreng, telur goreng, kerupuk, dan sambal. Enak sekaliii… setelah makan, kami semua bersiap-siap untuk tracking kembali. Huwaaaa rasanya tidak ingin pergi dari Kampung Cibeo (karena kakin masih sakit wkwkwk). Aku mengemas satu tas bersama Yustika agar bayar porternya bisa lebih murah karena bibagi berdua.
Jalur pulang kami berbeda dengan jalur berangkat, tetapi medannya seperti keberangkatan yaitu banyak sekali tanjakan cinta. Tetapi tidak apa-apa, setidaknya Cuma jalan 2 jam kemudian naik pick up. Jalur yang kami lalui ini merupakan jalur terdekat menuju Cijahe. Sesampai di Cijahe aku berfoto dengan ayah yang kebetulan ikut mengantarkan kami pulang (sudah bukan lagi Baduy Dalam, jadi boleh berfoto). Perjalanan Cijahe-Ciboleger menggunakan pick up dan rasanya nano-nano wkwkwkwkwkw. Sesampainya di Ciboleger aku langsung mandi dan makan siang. Kami melanjutkan perjalanan pulang kurang lebih pukul 13.15 WIB.

Jakarta, 11 Januari 2019
Pemandangan kota Jakarta malam itu berbanding terbalik dengan suasana malam di Baduy Dalam. Kami terjebak macet sehingga kami lumayan lama berada di Jakarta. Bangunan tinggi, peneranganm cerah, lampu bersorot dimana-mana. Sangat terasa beda sekali demngan Baduy Dalam. Gelap. Tanpa ada listrik. Suasana sunyi hanya ada suara hewan seperti jangkrik dan semacamnya membuat aku merasakan tenang. Teringat sosok Ayah Naldi dan keluarganya yang sangat baik menerima kedatangan kami. Di bus aku sempat merasakan terharu campur sedih bahagia. Tidak menyangka akan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga ini.
Di dalam bus, seperti biasa aku dan kawan-kawan dilogi bernyanyi bersama. Terlelap tidur bersama. Menunggu makan malam yang tak kunjung sampai di rumah makan karena terjebak macet. Alhasil, Mas Lilik yang baik hati memberi kami roti untuk mengganjal perut sementara. Disamping suasana kelaparan, kami mendapatkan berita bahagia bahwasanya esok harinya kami akan mendapatkan bonus makan pagi. Senangnya hati ini hehehehe.

Pemalang, 11 Januari 2019
Akhirnyaaaaa, kami sampai di rumah makan Pringsewu. Tetapi tetap saja kakiku masih terasa pegal-pegal. Untuk jalan pun tidak bisa normal. Sangat lambat dan yaaa tidak bisa membayangkan bentukanku seperti apa wkwkwkw. Momen seperti ini dimanfaatkan oleh Nisak. Dengan Jailnya memvideo cara jalanku. Yaudah lah, gapapa. Beribadah membuat orang lain tertawa bahagia😊 setelah makan malam (dini hari sebetulnya, karena waktu itu menunjukkan pukul 23.46 WIB wkwkwkw) kami melanjutkan perjalanan pulang.

Semarang, 12 Januari 2019
Selamat pagi dunia! Kataku kepada alam ini. Kami berhenti di sebuah tempat makan. Menunggu makan pagi yang baru dipesan dan juga menunggu rombongan kawan dilogi kelas B. lumayan lama kami berhenti di sana. Sebagian kawan-kawan ada yang masih di dalam bus, ada yang sedang tidur, ada yang sedang bercanda, ada yang sedang kesakitan kakinya wkwkwkw dan juga ada yang keluar bus untuk bersantai menghirup udara pagi. Macam-macam jenis aktivitas aku temui. Tak lama kemudian rombongan kawan dilogi kelas B datang dan secara bersamaan juga makanan sudah matang siap dimakan. Semua mengambil makan dan bersantai makan bersama. Bahkan kru bus ada yang karaokean di rumah makan tersebut. Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan pulang.

Yogyakarta, 12 Januari 2019
Inilah tujuan terakhir kami. Kembali pulang ke kota tercinta yaitu Yogyakarta untuk istirahat menemui kasur. Tidur. Kami tiba di rektorat UNY kira-kira pukul 11.00 WIB.

Begitulah cerita. Pengalaman terhebat yang pernah aku alami.
Sekian dari aku, dan tak lupa aku ucapkan terima kasih kepada:

  1. Bu Aris, selaku dosen pembimbing mata kuliah KKL ini, yang membantu mempersiapkan segala keperluan KKL
  2. Bu Endah dan Pak Grendi, yang selalu mendampingi kami dimanapun dan kapanpun, terima kasih juga atas tlaktirannya Pak, Bu hehehehe
  3. Ayah Naldi dan keluarga, yang telah menerima aku dengan ramah
  4. Nisak, partner mempersiapkan KKL ini dengan penuh kepanikan wkwkwkwk
  5. Yulia, yang memberiku obat maagh hehehe walaupun gajadi tak minum:p
  6. Ines, yang selalu usil di dalam bus. Bikin ketawa ketiwi wkwkwkwk
  7. Erika, yang menemani tidur di hotel. Mengemasi perlengkapan tracking-ku yang awalnya berantakan menjadi rapi dan ringkas bisa masuk tas wkwkwkw luv u!
  8. Hadi, yang sudah membantuku saat jatuh terpeleset. Yang menenangkan bahwa itu bukan ulat bulu hahahaha
  9. Zulianes a.k.a bajay, yang menemaniku beli popmie di malam yang gelap gulita itu.
  10. Yustika, yang membantuku juga saat terpeleset. Yang selalu sedia conterpain untuk kuusapkan seluruh kaki dan tanganku (conterpain udah kayak lotion aja wkwkwwk). Yang selalu membuat tertawa di dalam bus dengan cerita ini itu, walaupun sering aku tinggal tidur hahahahaha ingat juga ya, aku ada dibelakangmu caket saat tracking:p
  11. Rafly, yang sudah menjagaku saat naik pick up wkwkwkwkwk hampir jatuh dan tidak kuat saat kakiku kesemutan tertindih tas-tas yang menyebalkan
  12. CS Holiday, yang sudah membersamai KKL kali ini. Yang selalu menlaktir makan juga saat diskusi terkait persiapan KKL ini. Yang tidak pernah marah/ kesal ketika aku banyak tanya, banyak minta ini itu wkwkwkwkw
  13. Kru bus, yang selalu respon ketika diajak bercanda di dalam bus juga wkwkwkw
  14. dan kawan-kawan dilogi yang berhasil membuat aku rindu suasana setiap perjalanan KKL ini.

INTOLERANSI DI SEKOLAH SEBAGAI TANTANGAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

Oleh:
Siti Munawaroh
17413241002
Pendidikan Sosiologi
Universitas Negeri Yogyakarta
Sitimunawaroh.2017@student.uny.ac.id

Abstrak
Artikel ini membahas tentang fenomena sikap intoleransi di lingkungan sekolah sebagai tantangan pendidikan multikultural. Fenomena ini dapat dianalisis menggunakan teori Sosiologi-Antropologi Pendidikan. Sosiologi-Antropologi Pendidikan mengkaji tentang konsep-konsep, metodologi sosio kultural, kasus dan permasalahan serta tantangan pendidikan. Hasil analisis artikel ini adalah masih adanya sikap intoleransi agama di dalam lingkungan sekolah dalam bentuk penolakan ketua OSIS berbeda agama. Untuk mencari solusi ini maka penulis memberikan contoh pengimplementasian pendidikan multikultural di SMA N 3 Yogyakarta.
Kata kunci: intolenransi, pendidikan multikultural,

Latar Belakang
Indonesia merupakan negara majemuk dimana masyarakatnya memiliki keberagaman. Suatu masyarakat dapat dikatakan majemuk apabila di dalam masyarakat tersebut terdapat perbedaan mulai dari suku, agama, ras, juga struktur kelembagaannya.
Perbedaan-perbedaan ini bukan tidak hanya memberi dampak positif pada kondisi Indonesia, melainkan juga mampu dan berpotensi menimbulkan konflik sebab dalam masyarakat majemuk dapat dikatakan cukup sulit untuk mencapai konsensus bersama. Maka dari itu, diperlukan pemahaman yang kompherensif mengenai konsep masyarakat majemuk sebagai upaya meminimalisir potensi konflik yang dapat muncul karena kemajemukan. Masyarakat majemuk mempunyai cita-cita atau tujuan untu menjadi multikulturalisme. Dimana masyarakat yang beragam tadi dapat hidup berdampingan dan mencapai kesejahteraan Bersama.
Adanya pendidikan multikultural merupakan upaya meminimalisir potensi konflik yang dapat muncul dan upaya untuk mencapai masyarakat yang multikultural. Namun sayangnya adalah masih tingginya sikap intoleransi dalam bida pendidikan terutama di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana fenomena intoleransi di lingkungan sekolah sebagai tantangan pendidikan multicultural.

Pembahasan
1. Pengertian Intoleransi
Intoleransi merupakan sikap berbanding terbalik dengan sikap toleransi. Dalam toleransi terdapat unsur-unsur yang harus ditekankan dalam mengekspresikan terhadap orang lain. unsur-unsur tersebut adalah:
a. Memberikan Kebebasan Dan Kemerdekaan
Setiap manusia diberikan kebebasan untuk berbuat, bergerak maupun berkehendak menurut dirinya sendiri sendiri dan juga di dalam memilih satu agama atau kepercayaan. Kebebasan ini diberikan sejak manusia lahir sampai nanti ia meninggal dan kebebasan atau kemerdekaan yang manusia miliki tidak dapat digantikan atau direbut oleh orang lain dengan cara apapun, karena kebebasan itu adalah datangnya dari Tuhan YME yang harus dijaga dan dilindungi. Di setiap Negara melindungi kebebasan-kebebasan setiap manusia baik dalam Undang-Undang maupun dalam peraturan yang ada (Abdullah, 2001:202).
b. Mengakui Hak Setiap Orang
Suatu sikap mental yang mengakui hak setiap orang di dalam menentukan sikap perilaku dan nasibnya masing- masing. Tentu saja sikap atau perilaku yang di jalankan itu tidak melanggar hak oranglain karena kalau demikian, kehidupan di dalam masyarakat akan kacau.
c. Menghormati Keyakinan Orang Lain
Dalam konteks ini, di berlakukan bagi toleransi antar agama. Namun apabla di kaitkan dalam toleransi sosial. Maka menjadi menghormati keyakinan orang lain dalam memilih suatu kelompok. Contohnya dalam pengambilan keputusan seseorang untuk memilih organisasi pencak silat. Sebagai individu yang toleran seseorang harus menghormati keputusan orang lain yang berbeda dengan kelompok organisasi pencak silat kita.
d. Saling Mengerti
Tidak akan terjadi, saling menghormati antara sesama manusia bila mereka tidak ada saling mengerti. Saling anti dan saling membenci, saling berebut pengaruh adalah salah satu akbibat dari tidak adanya saling mengerti dan saling menghargai Antara satu dengan yang lain (Hasyim, 1979:23).
Jadi intoleransi merupakan kondisi dimana individu atau sekelompok individu yang belom mampu memenuhi unsur-unsur toleransi di atas.
2. Pengertian Pendidikan Multikultural
Menurut Dede Rosyada (2014), pendidikan multikultural adalah proses pendidikan yang memberikan peluang yang sama pada seluruh generasi bangsa tanpa diskriminasi karena perbedaan etnik, budaya, dan agama. Selanjutnya memberikan penghargaan terhadap keragaman, dan yang memberikan hak-hak yang sama bagi etnik minoritas, dalam upaya memperkuat persatuan dan kesatuan, identitas nasional dan citra bangsa dimata dunia internasional.
Sementara itu Zakiyuddin Baidhawy (2007) menyebutkan pendidikan multikultural mempunyai makna yang lebih luas sehingga memasukkan isu-isu lain seperti relasi gender, hubungan antar agama, kelompok kepentingan, kebudayaan dan subkultur, serta bentuk-bentuk lain dari keragaman.
Menurut pengertian pendidikan multikultural kedua ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan multikultural merupakan pedidikan yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, serta sikap inklusif dalam kehidupan berbangsa, bernegara maupun beragama. Dengan demikian, perbedaan-perbedaan khususnya dalam praktik keagamaan tidak disikapi dengan sikap eksklusif dan fanatik golongan. Dalam pendidikan multikultur, keragaman dan perbedaan menjadi nilai positif untuk mengembangkan potensi yang dimiliki masing-masing.
Dalam pendidikan multikultur, sekolah atau lembaga pendidikan harus merancang, merencanakan, dan mengontrol seluruh elemen sekolah yang dapat mendukung proses pendidikan multikultur dengan baik. Sekolah harus merencanakan proses pembelajaran yang dapat menumbuhkan sikap multikultur siswa yang menghargai perbedaan, menghargai hak asasi manusia dan keadilan. Sekolah harus mendisain pembelajaran, merancang kurikulum, sistem evaluasi, serta mempersiapkan pendidik yang memiliki perserpsi, sikap dan perilaku multikultur, sehingga menjadi bagian yang memberikan kontribusi positif terhadap pembinaan sikap multikultur para peserta didiknya (Rosyada 2014).
3. Analisis Fenomena Sikap Intoleransi Sebagai Tantangan Pendidikan Multikultural
Saat ini sikap intoleransi sudah mulai tumbuh dalam dunia pendidikan di Indonesia. Contoh kasusnya adalah keengganan siswa dipimpin oleh ketua OSIS yang berbeda agama. Kasus ini telah diteliti oeh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu tentang toleransi, kesetaraan dan kerjasama. Bahkan tidak hanya siswa yang memiliki sikap intoleransi, guru pun juga ada yang bersikap intoleransi. Kemudian selain itu, dalam penelitian Pusat Pengkaji Islam dan Masyarakat, UIN Jakarta dengan responden guru agama sejumlah 505, menunjukkan hasil para guru agama itu menolak pemimpin beda agama di tingkat atas. Sejumlah 89% menolak kepala daerah nonmuslim, 87% menolak kepala sekolah dan 80% menolak kepala dinas. Bahkan sebagian besar guru agama juga tidak setuju pendirian rumah ibadah agama lain di wilayah mereka, mencapai 81%. Penelitian ini digelar di 11 Kabupaten/ Kota di lima provinsi yaitu, Jawa Barat (Ciamis, Garut, dan Tasikmalaya), Banda Aceh (Aceh Besar dan Pidie), Nusa Tenggara Barat (Mataram dan Lombok Timur), Sulawesi Selatan (Maros, Bulukumba dan Makasar), dan Jawa Tengah (Solo).
Berdasarkan kasus di atas, sangat disayangkan apabila dalam dunia pendidikan masih terlihat jelas sikap intoleransi seperti ini. Sikap intoleransi yang dimaksud adalah tidak mengakui hak orang lain dalam menduduki posisi/ jabatan tertentu dengan menggunakan dalih beda agama. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya memberikan pemahaman tentang keberagaman dan menumbuhkan sikap saling menghargai. Namun pada kenyataannya, pendidikan belum mampu mencapai itu. Sehingga kasus ini merupakan tantangan besar dalam mengimplementasikan pendidikan multikutural.
Contoh pengimplementasian pendidikan multikultural dapat dilihat di SMA N 3 Yogyakarta. OSIS sebagai organisasi siswa dikelola dengan norma demokrasi. Pemilihan ketua OSIS membuka peluang bagi setiap siswa untuk memimpin organisasi ini. Dalam masa persiapan pemilihan ketua OSIS biasanya guru BK mengajak dialog calon-calon ketua untuk memaparkan visi dan misinya supaya guru BK dapat mengkritisi substansi visi dan misi calon-calon ketua OSIS tersebut agar selaras dengan jiwa Padmanaba. Demokrasi dalam organisasi kesiswaan menuntut keterlibatan siswa melalui lembaga perwakilan dalam membangun wacana kepentingan siswa semuanya. Orasi calon ketua OSIS bertujuan untuk membujuk siswa yang lain agar mendukung visi dan misi melalui argumentasiyang kuat dan memikat. Demokrasi dalam organisasi kesiswaan juga berarti proses pembelajaran para siswa untuk mengatasi konflik antar pribadi dan antar kelompok sehingga semua pihak yang bersengketa merasa mendapat manfaat dan percaya bahwa mereka telah diperlkukan dengan adil serta sama. Salah satu hal penting dalam kaitannya dengan nilai-nilai multikultural, organisasi kesiswaan yang dikelola secara demokratis ini dibangun di atas kepercayaan bahwa setiap siswa terlepas dari jenis kelamin, etnis, dan agama, dianggap setara dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi (Budi, N. S., dkk., 2014: 51-52).

Kesimpulan
Pendidikan multikultural merupakan pedidikan yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, serta sikap inklusif dalam kehidupan berbangsa, bernegara maupun beragama. Dengan demikian, perbedaan-perbedaan khususnya dalam praktik keagamaan tidak disikapi dengan sikap eksklusif dan fanatik golongan. Dalam pendidikan multikultur, keragaman dan perbedaan menjadi nilai positif untuk mengembangkan potensi yang dimiliki masing-masing. Namun, yang menjadi tantangan adalah sikap intoleransi agama yang masih melekat pada siswa maupun guru di lingkungan sekolah. Sikap ini harus dihilangkan demi terciptanya tujuan pendidikan multikultural.

Referensi:
Mahfud, C. 2009. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Budi, N. S., dkk. 2014. Implementasi Pendidikan Multinkultural di SMA Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya
Nur Rochmi, Muhammad. 2017. Intoleransi Mulai Tumbuh dalam Pendidikan. https://beritagar.id diakses pada tanggal 6 Januari 2019 pukul 13.47 WIB
Miftahur Rohman. 2018 Konsep Pendidik Berwawasan Multikultural Dalam Lembaga Pendidikan. https://osf.io diakses pada tanggal 6 Januari 2019 pukul 14.21 WIB
Agus Munadlir. 2016. Strategi Sekolah Dalam Pendidikan Multikultural. https://journal.uad.ac.id diakses pada tanggal 6 Januari 2019 puku 14.29 WIB